Spesial hari ini: 30 hari akses penuh tanpa kartu kredit · Bayar 2 tahun, pakai 3 tahun untuk Pro & Terima Beres · Ajak teman: masing-masing gratis hingga 6 bulan

← Semua artikel

Gen Z dan Milenial di Meja Makan: Mereka Memilih Lewat Video Sebelum Datang

Blog MenuOnGo · Diperbarui

Ada momen yang sekarang terjadi di hampir setiap kafe: hidangan datang, dan sebelum ada yang menyentuh sendok, tiga ponsel sudah terangkat. Bagi pemilik usaha yang lebih senior, kebiasaan ini kadang terasa aneh. Bagi tamu muda, itu bagian dari makan di luar.

Kebiasaan itu sebenarnya petunjuk. Tamu Gen Z dan milenial tidak hanya merekam makanan setelah datang; mereka juga memutuskan mau datang ke mana dari rekaman orang lain.

Anak muda menggunakan ponsel di meja kasir sebuah kafe

Seberapa besar kelompok ini?

Menurut hasil Sensus Penduduk 2020 yang disampaikan BPS dan dilaporkan Bisnis Indonesia, Gen Z (lahir 1997–2012) mencakup 27,94% penduduk Indonesia dan milenial (1981–1996) 25,87%. Gabungan keduanya lebih dari separuh populasi.

Di dunia digital, dominasinya lebih terasa. Survei APJII 2025 mencatat Gen Z sebagai kelompok pengguna internet terbesar (25,54%), disusul milenial (25,17%), dan 95% pengguna internet mengakses lewat smartphone.

Di mana mereka menemukan tempat makan?

Jawabannya: di layar yang bergerak. Laporan DataReportal Digital 2026 memperkirakan iklan TikTok menjangkau sekitar 180 juta orang dewasa di Indonesia, sementara YouTube sekitar 151 juta dan Instagram sekitar 108 juta.

Survei konsumen Jakpat September 2025 menegaskan hal yang sama dari sisi kuliner: 44% responden mencoba tempat makan baru karena konten media sosial atau iklan, dan 40% karena konten TikTok dari pembuat konten kuliner. Laporan e-Conomy SEA 2025 juga mencatat transaksi video commerce di Indonesia naik 90% menjadi 2,6 miliar transaksi. Orang Indonesia sudah terbiasa membeli dari apa yang mereka tonton.

Seseorang memotret makanan di meja makan dengan ponsel

Apa yang mereka harapkan dari menu?

Bisa dilihat, bukan hanya dibaca. Generasi yang menemukan tempat makan lewat video tidak puas dengan daftar nama hidangan tanpa gambar. Mereka ingin tahu tampilannya, teksturnya, dan apakah layak difoto.

Harga yang terang. Anak muda sangat sensitif harga. Dalam survei Jakpat yang sama, harga terjangkau adalah alasan nomor satu mencoba tempat baru (64%). Harga yang tersembunyi atau kejutan pajak di struk cepat menjadi bahan cerita, dan bukan cerita yang baik.

Bangga dengan yang lokal. Jakpat juga menemukan 77% responden mudanya lebih memilih usaha kuliner lokal. Es kopi susu gula aren, seblak, atau nasi kucing dengan sentuhan baru justru lebih menarik daripada meniru menu luar negeri.

Cepat dan tanpa ribet. Tidak ada yang mau mengunduh aplikasi hanya untuk melihat menu. Scan, buka, pilih, lalu bayar dengan QRIS.

Jujur soal isi. Tamu muda makin peduli bahan, label vegetarian atau vegan, dan tentu status halal. Informasi ini harus mudah ditemukan, bukan disimpan di kepala pelayan.

Hati-hati dengan jebakan “viral”

Menjadi viral bisa membawa antrean panjang selama dua minggu, lalu sepi. Tren yang terlalu dikejar sering menghasilkan menu yang tidak berkelanjutan, dapur yang kewalahan, dan pelanggan setia yang merasa ditinggalkan. Gen Z juga bukan satu kelompok seragam: mahasiswa di Yogyakarta dan pekerja muda di Jakarta punya anggaran dan kebiasaan yang sangat berbeda.

Strategi yang lebih sehat adalah memakai bahasa visual mereka untuk menonjolkan apa yang memang menjadi kekuatan Anda, bukan mengubah identitas setiap kali ada tren baru.

Bawa bahasa video ke dalam menu

Kalau tamu muda memutuskan berdasarkan video di TikTok, logis untuk menyambut mereka dengan bahasa yang sama ketika menu sudah terbuka di meja. Foto yang bagus membuat orang melirik; video singkat membuat orang memanggil pelayan.

MenuOnGo memungkinkan Anda menambahkan video singkat dan animasi pada hidangan: latte art yang dituang, keju yang meleleh, uap dari mangkuk bakso. Anda juga bisa membuat kampanye video untuk menu edisi terbatas, tepat di menu yang sedang dibuka tamu, saat semua sudah duduk dan belum ada yang memesan. Fitur video ada di paket Pro dan bisa dicoba gratis selama 30 hari, tanpa kartu kredit. Foto per hidangan sudah tersedia di paket gratis, jadi Anda bisa mulai dari yang paling sederhana.

Kebiasaan tamu muda dan artinya untuk menu

Kebiasaan Data Yang perlu Anda lakukan
Menemukan tempat makan lewat video 40% karena konten TikTok (Jakpat) Video singkat hidangan andalan
Mengakses internet lewat ponsel 95% via smartphone (APJII) Menu yang nyaman dibaca di layar kecil
Sensitif harga 64% tertarik karena harga terjangkau (Jakpat) Harga jelas, paket hemat yang menonjol
Bangga kuliner lokal 77% memilih usaha lokal (Jakpat) Tonjolkan menu lokal dan cerita di baliknya
Tidak mau ribet — Tanpa aplikasi, langsung dari kamera ponsel

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa persen penduduk Indonesia yang termasuk Gen Z dan milenial? Menurut Sensus Penduduk 2020 dari BPS, Gen Z mencakup 27,94% dan milenial 25,87% penduduk Indonesia, sehingga gabungannya lebih dari separuh populasi.

Dari mana anak muda menemukan tempat makan baru? Terutama dari media sosial. Dalam survei Jakpat September 2025, 44% responden mencoba tempat baru karena konten media sosial atau iklan, dan 40% karena konten TikTok dari pembuat konten kuliner.

Apakah menu harus punya foto untuk menarik Gen Z? Sangat disarankan. Tamu muda menilai hidangan dari tampilannya. Foto yang jujur adalah dasar, dan video singkat bisa memberi dorongan tambahan saat tamu sedang memutuskan.

Apakah Gen Z mau scan QR untuk melihat menu? Umumnya ya, selama menu terbuka cepat tanpa perlu mengunduh aplikasi. APJII mencatat 95% pengguna internet di Indonesia mengakses lewat smartphone.

Apakah mengejar tren viral itu strategi yang baik? Viral bisa mendatangkan tamu dalam waktu singkat, tetapi tidak selalu bertahan. Lebih aman menonjolkan kekuatan Anda dengan bahasa visual anak muda daripada mengubah identitas mengikuti setiap tren.


Sumber: Badan Pusat Statistik (Sensus Penduduk 2020) via Bisnis Indonesia; Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia/APJII (2025) via Bisnis Indonesia; DataReportal, Digital 2026: Indonesia; Jakpat (September 2025) via GoodStats; Google, Temasek & Bain, e-Conomy SEA 2025. Gambar: Pexels (bebas digunakan). Data per 19 Oktober 2026.

Baca saat istirahat. Menu Anda tetap bekerja.

Tiga puluh hari dengan semua fitur Pro, termasuk impor menu, tanpa bayar apa pun.