Apa yang Sebenarnya Dicari Tamu di Menu Restoran? Ini Kata Data Konsumen Indonesia
Perhatikan tamu yang baru duduk dan membuka menu. Matanya tidak membaca dari atas ke bawah seperti membaca buku. Ia melompat: ke harga, ke foto, ke nama hidangan yang dikenalnya, lalu kembali ke harga. Dalam beberapa puluh detik, keputusan sebagian besar sudah diambil.
Pertanyaannya, apa yang sedang mereka cari dalam puluhan detik itu? Survei konsumen Indonesia tahun lalu memberi jawaban yang cukup jelas, dan sebagian jawabannya tidak terlalu romantis.

Harga dan rasa, hampir sama kuatnya
Dalam survei Jakpat terhadap 995 responden muda di delapan kota besar di Jawa pada September 2025, faktor yang paling menentukan pilihan tempat makan adalah harga (60%) dan rasa (59%), disusul pelayanan (44%), kebersihan (44%), dan ukuran porsi (43%).
Bagi menu, angka-angka ini punya arti praktis. Harga harus mudah ditemukan dan jujur. Rasa tidak bisa dicicipi dari menu, jadi harus “dijual” lewat deskripsi dan foto. Dan porsi, yang sering dilupakan, ternyata menjadi pertimbangan bagi hampir separuh tamu. Menulis “untuk 2–3 orang” atau “porsi besar” bisa menjawab pertanyaan yang selama ini membuat tamu ragu.
Survei yang sama juga menemukan 77% responden lebih memilih usaha kuliner lokal saat makan di luar. Nama hidangan yang akrab, dari soto sampai seblak, bukan kelemahan. Itu daya tarik.
Halal, informasi yang tidak boleh tersembunyi
Di Indonesia, kejelasan status halal adalah bagian dari keputusan memesan, bukan detail tambahan. BPJPH, mengutip sebuah survei, menyebut 83% konsumen membeli makanan dengan mempertimbangkan kehalalannya. Restoran yang menyajikan menu campuran perlu memberi tanda yang tegas pada hidangan nonhalal, dan restoran yang sudah tersertifikasi layak menunjukkannya dengan jelas.

Yang membuat orang mencoba tempat baru
Data Jakpat yang dirangkum GoodStats menunjukkan alasan utama konsumen mencoba tempat makan baru: harga terjangkau (64%), menu yang unik (49%), promo pembukaan (48%), konten media sosial atau iklan (44%), lokasi strategis (43%), dan ulasan atau rating yang baik (42%). Konten TikTok dari pembuat konten kuliner disebut oleh 40% responden.
Ada satu temuan lain yang patut dicermati: 40% responden memilih menunggu sampai tempat baru terasa stabil atau membaca ulasan dulu sebelum datang. Artinya, sebelum tamu pertama Anda duduk, menu dan ulasan Anda sudah dinilai di ponsel mereka.
Menu yang menjawab sebelum ditanya
Dari data di atas, menu yang baik untuk tamu Indonesia setidaknya menjawab enam pertanyaan tanpa mereka perlu memanggil pelayan:
- Berapa harganya, dan sudah termasuk pajak atau belum?
- Rasanya seperti apa? Pedas, manis, gurih, berkuah, renyah.
- Seberapa banyak porsinya? Untuk berapa orang, pakai nasi atau tidak.
- Halal atau tidak, dan apa saja bahannya?
- Seperti apa bentuknya? Satu foto jujur lebih berguna daripada tiga kalimat.
- Apa yang istimewa di sini? Menu andalan, menu musiman, atau yang hanya ada di tempat Anda.
Dengarkan tamu sebelum mereka menulis ulasan
Kalau 42% orang memutuskan mencoba tempat baru dari ulasan, maka satu ulasan bintang dua bisa terasa sangat mahal. Masalahnya, sebagian besar keluhan tidak pernah sampai ke pemilik. Tamu yang kecewa jarang memanggil manajer; mereka diam, membayar, lalu menulis di Google Maps malam itu juga.
Karena itu, memberi tamu jalur yang mudah dan pribadi untuk menyampaikan keluhan adalah investasi yang sangat murah. Di MenuOnGo, tamu bisa meninggalkan catatan langsung dari menu di ponsel mereka, tentang makanan, pelayanan, atau suasana, dan hanya Anda yang bisa membacanya. Anda punya kesempatan memperbaiki masalah sebelum berubah menjadi ulasan publik. Fitur masukan pribadi ini ada di paket Pro, yang bisa dicoba gratis selama 30 hari. Untuk tamu yang puas, tautan ulasan ke Google atau situs lain bisa dipasang di menu, bahkan di paket gratis, sehingga mereka bisa memberi bintang lima selagi masih di meja.
Satu prinsip yang perlu dipegang: jalur masukan pribadi bukan untuk menyaring tamu agar hanya yang puas menulis ulasan. Tujuannya mendengar lebih awal, bukan membungkam.
Apa yang dicari tamu, dan apa yang harus terlihat di menu
| Yang dicari tamu | Data | Yang perlu ada di menu |
|---|---|---|
| Harga | 60% menyebut harga sebagai faktor utama | Harga jelas, keterangan pajak/service |
| Rasa | 59% | Deskripsi rasa, foto atau video hidangan |
| Porsi | 43% | “Untuk 2–3 orang”, “porsi besar”, isi paket |
| Kehalalan | 83% mempertimbangkan halal (BPJPH) | Label halal sesuai sertifikasi, tanda nonhalal |
| Menu unik | 49% tertarik mencoba tempat baru karenanya | Menu andalan dan musiman ditonjolkan |
| Ulasan baik | 42% | Tautan ulasan untuk tamu yang puas |
Data Jakpat (September 2025) kecuali disebutkan lain.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa faktor terpenting saat orang Indonesia memilih tempat makan? Survei Jakpat September 2025 menemukan harga (60%) dan rasa (59%) sebagai faktor utama, disusul pelayanan dan kebersihan (masing-masing 44%) serta ukuran porsi (43%).
Apakah perlu mencantumkan ukuran porsi di menu? Sangat disarankan. Hampir separuh responden survei Jakpat menyebut porsi sebagai pertimbangan. Keterangan sederhana seperti “untuk 2 orang” atau “porsi besar” mengurangi keraguan tamu.
Seberapa penting label halal di menu? Sangat penting di Indonesia. BPJPH menyebut 83% konsumen membeli makanan dengan mempertimbangkan kehalalan. Label halal sebaiknya hanya dipasang pada hidangan yang sudah tersertifikasi, dan menu nonhalal diberi keterangan yang jelas.
Bagaimana cara mengurangi ulasan buruk di Google? Perbaiki masalahnya sedini mungkin. Sediakan jalur pribadi bagi tamu untuk menyampaikan keluhan saat masih di tempat, dan tanggapi ulasan publik dengan sopan. Jangan menyaring tamu agar hanya yang puas yang diarahkan menulis ulasan.
Apakah tamu benar-benar membaca ulasan sebelum datang? Banyak yang ya. Dalam survei Jakpat, 40% responden menunggu tempat baru stabil atau membaca ulasan terlebih dahulu, dan 42% menyebut ulasan baik sebagai alasan mencoba tempat baru.
Sumber: Jakpat, Consumer Insights: Local F&B Market (September 2025) via Jakpat Insight dan GoodStats; Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal/BPJPH (September 2026). Gambar: Pexels (bebas digunakan). Data per 19 Oktober 2026.
Baca saat istirahat. Menu Anda tetap bekerja.
Tiga puluh hari dengan semua fitur Pro, termasuk impor menu, tanpa bayar apa pun.